Monday, 24 August 2020

Rencana Tuhanlah yang terbaik

 

Meski Terasa Pahit Rencana Tuhanlah yang Terbaik

 

 

Oleh : Feni Agustina Siringoringo

 

              Pagi itu terasa hangat dan cerah. Seperti biasanya orang dikampungku beraktivitas, ada yang menyuci, sebagian bersiap  hendak pergi keladang dan mencari kesibukan masing masing. Saat  itu saya  sedang sibuk membersihkan rumah sebagaimana biasanya. Dengan tiba- tiba sepupu saya namanya Andes  berteriak, sontak kami semua berlari menghampiri. Ternyata dia terjatuh dari pohon dan mengalami cidera tulang. Kami semua panik tidak karuan karena tulang nya mengenai bagian perut. Dengan sigap bercampur rasa panik dan  tidak mau terjadi hal yang tidak diinginkan  papa, mama dan bapaktua membawa Andes ke dukun Patah. Papa berlari membawa mobil butut kami, tanpa berpikir panjang. Puji Tuhan, atas kemurahanNya sepupu saya pulang.  Saat ini dia masih dalam masa pemulihan.

              Peristiwa ini bukanlah hal biasa bagi saya sendiri. Jujur saya sangat sedih melihat saudara saya mengalami kecelekaan itu. Dari kejadiaan ini saya mengambil banyak pelajaran hidup yang tak ternilai harganya. Kedamaian yang berpuluh tahun saya tunggu baru saat ini terjadi. Doa yang setiap malam saya lantunkan, baru hari ini terjawab. Ya betul, persaudaraan Bapak dan Bapaktua (abang bapak) renggang. Mama dan mamatua ( kakak ipar bapak/ mama) saling mengeraskan hati untuk berdamai dan sering berselisih paham. Banyak kejadian pahit dan mengiang-ngiang di bayanganku, sering membuat traum dan dendam.

           Sebagai anak pertama  yang sudah meranjak dewasa, saya merasa gagal dan tidak berguna. Kenapa tidak? Dalam hati saya berpikir “ persaudaraan kedua orangtuaku saja renggang, bagaimana nantinya aku menjaga hubungan dengan ke tujuh adekku?”. Ya,, mungkin bagi sebagian orang hal itu biasa saja, tapi bagi saya sendiri hal ini harus dibereskan. Semisal bagaimana mungkin anak-anak berterima dengan ajaran orangtuanya untuk tidak berantam, sedangkan mereka saja sering melakukan hal itu. Lucu bukan?

           Dari kejadian ini seakan saya diajarkan tentang “  apakah kita tahu bahwa Tuhan sedang mengumpulkan permohonan/ doa kita, dan akan menjadi hadiah terbaik di waktu yang terbaik pula”.

          Selama  ini saya sering kecewa dan bertanya “ sepertinya Tuhan tidak mendengar doaku, mungkin aku manusia terhina didunia ini”. Kenapa saya selalu mendoakannya tetapi malah terus lagi terjadi?  Bahkan menjadi tontonan dan hiburan orang ketika persaudaran kami terus berselisih paham. Tak ada yang mau mengalah, semua mengeraskan hati masing-masing. Saya sangat malu dan merasa tertekan, dibully, dan seperti diasingkan.

         Saya tersadar, selama ini terburu- buru merobek bungkusan hadiah sebelum pada waktunya. Tuhan mengetahui yang terbaik buat kita ketika meminta sesuatu. Dia akan memilah dan memberikan yang terbaik di waktu yang terbaik.  Melalui kejadian ini, mungkin cara Tuhan menjawab doaku “ kedamaian”. Hari ini hadiah Tuhan nyata, persaudaraan kami kembali pulih. Saya percaya Tuhan akan memperbaiki semua.

            Walau  kadang terasa sia-sia kita tidak boleh jenuh untuk meminta berulang kali kepada Tuhan. Akan ada waktunya doa kita dijawab Tuhan satu persatu, karena rencanaNya bukanlah rencana kita dan jauh lebih baik dari rencana kita.

        

 

 

Lintongnihuta, 25 Agustus 2020

Kita adalah putra dan putri raja yang berhikmat   Ayat pedoman   1 Raja – raja 10: 1-9 (1)    Ketika ratu negeri syeba mendengar kab...