Meski Terasa Pahit Rencana Tuhanlah yang Terbaik
Oleh : Feni Agustina
Siringoringo
Pagi itu terasa hangat dan cerah. Seperti biasanya orang dikampungku
beraktivitas, ada yang menyuci, sebagian bersiap hendak pergi keladang dan mencari kesibukan masing
masing. Saat itu saya sedang sibuk membersihkan rumah sebagaimana
biasanya. Dengan tiba- tiba sepupu saya namanya Andes berteriak, sontak kami semua berlari
menghampiri. Ternyata dia terjatuh dari pohon dan mengalami cidera tulang. Kami
semua panik tidak karuan karena tulang nya mengenai bagian perut. Dengan sigap
bercampur rasa panik dan tidak mau
terjadi hal yang tidak diinginkan papa,
mama dan bapaktua membawa Andes ke dukun Patah. Papa berlari membawa mobil
butut kami, tanpa berpikir panjang. Puji Tuhan, atas kemurahanNya sepupu saya
pulang. Saat ini dia masih dalam masa
pemulihan.
Peristiwa ini bukanlah hal biasa bagi saya sendiri. Jujur saya sangat
sedih melihat saudara saya mengalami kecelekaan itu. Dari kejadiaan ini saya
mengambil banyak pelajaran hidup yang tak ternilai harganya. Kedamaian yang berpuluh
tahun saya tunggu baru saat ini terjadi. Doa yang setiap malam saya lantunkan,
baru hari ini terjawab. Ya betul, persaudaraan Bapak dan Bapaktua (abang bapak)
renggang. Mama dan mamatua ( kakak ipar bapak/ mama) saling mengeraskan hati
untuk berdamai dan sering berselisih paham. Banyak kejadian pahit dan
mengiang-ngiang di bayanganku, sering membuat traum dan dendam.
Sebagai anak pertama yang sudah
meranjak dewasa, saya merasa gagal dan tidak berguna. Kenapa tidak? Dalam hati
saya berpikir “ persaudaraan kedua orangtuaku saja renggang, bagaimana nantinya
aku menjaga hubungan dengan ke tujuh adekku?”. Ya,, mungkin bagi sebagian orang
hal itu biasa saja, tapi bagi saya sendiri hal ini harus dibereskan. Semisal bagaimana
mungkin anak-anak berterima dengan ajaran orangtuanya untuk tidak berantam,
sedangkan mereka saja sering melakukan hal itu. Lucu bukan?
Dari
kejadian ini seakan saya diajarkan tentang “
apakah kita tahu bahwa Tuhan sedang mengumpulkan permohonan/ doa kita,
dan akan menjadi hadiah terbaik di waktu yang terbaik pula”.
Selama ini saya sering kecewa dan
bertanya “ sepertinya Tuhan tidak mendengar doaku, mungkin aku manusia terhina
didunia ini”. Kenapa saya selalu mendoakannya tetapi malah terus lagi terjadi? Bahkan menjadi tontonan dan hiburan orang
ketika persaudaran kami terus berselisih paham. Tak ada yang mau mengalah,
semua mengeraskan hati masing-masing. Saya sangat malu dan merasa tertekan,
dibully, dan seperti diasingkan.
Saya
tersadar, selama ini terburu- buru merobek bungkusan hadiah sebelum pada
waktunya. Tuhan mengetahui yang terbaik buat kita ketika meminta sesuatu. Dia
akan memilah dan memberikan yang terbaik di waktu yang terbaik. Melalui kejadian ini, mungkin cara Tuhan
menjawab doaku “ kedamaian”. Hari ini hadiah Tuhan nyata, persaudaraan kami
kembali pulih. Saya percaya Tuhan akan memperbaiki semua.
Walau kadang terasa sia-sia kita tidak boleh jenuh
untuk meminta berulang kali kepada Tuhan. Akan ada waktunya doa kita dijawab
Tuhan satu persatu, karena rencanaNya bukanlah rencana kita dan jauh lebih baik
dari rencana kita.
Lintongnihuta, 25 Agustus 2020