Wednesday, 2 September 2020

Rezeki Tuhan yang Atur, Bisa Dalam Bentuk dan Cara Apapun

 

Rezeki Tuhan yang atur, bisa dalam bentuk dan cara apapun

 

 

Oleh: Feni Agustina Siringoringo

 

Pemahaman  Rezeki  Part 1

Rezeki dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia “ segala sesuatu yang dipakai untuk memelihara kehidupan ( yang diberikan oleh Tuhan), makanan sehari-hari, nafkah ( nomina). Menurut bahasa rezeki itu memiliki arti penghidupan, tiap-tiap yang bermanfaat, yang berguna bai mahluk hidup termasuk manusia yang diberikan oleh Tuhan.

Jujur, pengertian saya tentang rezeki sangat dangkal. Saya sering kali salah mengartikan rezeki sebagai kekayaan materil dan  kesuksesan dalam meraih sesuatu. Ketika saya berdoa meminta berkat, kemudian  mendapatkan rezeki berlimpah, saya merasa bahwa itulah yang dinamakan rezeki. Lalu bagaimana ketika saya dan saudara  berdoa meminta berkat namun tak dikabulkan oleh Tuhan? Apakah kita tidak punya rezeki? Ya, sering kali kita salah menafsirkan apa sebenarnya yang dimaksudkan dengan rezeki.

Hari- hari ini saya diajarkan mengenai apa itu sebenarnya “ rezeki”. Saya percaya rezeki bersumber dari Tuhan, dan ada pada kita atas izinNya. Rezeki bisa dalam bentuk apapun dan berbeda bagi  setiap orang.  Semua hal itu tidak dapat kita atur dan prediksikan.  Sebagai bahan perenungan, Saya melihat lingkungan sekitar saya sebagai contoh konkretnya.

Di lingkungan saya ada sebuah kedai yang sudah lama buka dan memang kedai ini ramai setiap harinya. Sebut saja Oppung Butet pemilik kedai ini kerjanya ya memang menjaga kedainya saja, tak ada kegiatan sampingan lainnya seperti bertani. Disana bapak-bapak berkumpul, bermain kartu, atau hanya sekedar minum tuak. Ya bisa dibilang kedai ini sudah punya langganan tetap. Tak lama kemudian sebut saja dia Pak Ucok membuka kedai baru lagi, yang jaraknya hanya 10 meter dari kedai lama. Menurut saudara bagaimana? Kira-kira ramai gak kedainya? Bertahan lama gak?.

Awalnya memang kedai pak Ucok ini ramai namun sampai beberapa bulan saja. Kalau kata Bapak dan mama saya “ kedai baru biasanya ramai, tapi diawalnya saja, berikutnya kita tak tahu”. Eits ,, saya tak berpaku terhadap perkataan orangtua saya dan hal itu tak layak dijadikan patokan. Lalu apakah pak Ucok tak memiliki rezeki?

 Kedai pak Ucok memang tak seramai ketika baru buka, namun tahukah saudara saya melihat hal unik dalam kejadian ini. Pak Ucok yang sembari bertani sayuran di ladang yang tak begitu jauh dari ladang kami, sempat membiarkan ladangnya begitu saja. Saya perhatikan, tanaman yang awalnya tidak begitu bagus menjadi begitu terawat dan menghasilkan panen yang melimpah dengan harga yang bagus pula . Wahhh,,, ada panen kentang, tomat, dan sayuran.

 

Ketika kedai pak Ucok pada masa ramai- ramainya, disitulah tanamannya kurang terawat karena sibuk seharian menjaga kedai. Dan ketika kedainya tidak begitu ramai lagi mungkin saja pak Ucok dingatkan bahwa bukan dari kedainya saja sumber “ rezeki. Dia masih punya ladang yang masih perlu dirawat, dari sana sumber rezeki  melebihi apa yang dia dapatkan ketika menjaga kedainya.  Ya betul saja, hasil tani melimpah dengan harga yang bagus.

Saya seakan belajar hidup dan mulai berpikiran  terbuka.  Rezeki yang pada umumnya kita artikan “ nafkah dan  makanan sehari- hari” datang dalam cara yang berbeda. Seperti Oppung Butet yang mungkin melalui  kedainya itu Tuhan berikan kecukupan nafkah sedangkan Pak Ucok melalui hasil ladangnya. Mungkin saja ketika kedai Pak Ucok ramai, dia berpikiran bahwa akan selamanya ramai.  Begitu juga dengan kita yang sering beranggapan bahwa melalui apa yang sedang kita kerjakanlah sumber rezeki/nafkah kita. Namun tidak begitu dengan Tuhan, dia mempunyai cara tersendiri untuk memberikan kita rezeki.

 

 

 

Lintongnihuta

Rabu, 02 September 2020

Kita adalah putra dan putri raja yang berhikmat   Ayat pedoman   1 Raja – raja 10: 1-9 (1)    Ketika ratu negeri syeba mendengar kab...