Rezeki
Tuhan yang atur, bisa dalam bentuk dan cara apapun
Oleh: Feni Agustina
Siringoringo
Pemahaman Rezeki Part 1
Rezeki dalam Kamus
Besar Bahasa Indonesia “ segala sesuatu yang dipakai untuk memelihara kehidupan
( yang diberikan oleh Tuhan), makanan sehari-hari, nafkah ( nomina). Menurut bahasa
rezeki itu memiliki arti penghidupan, tiap-tiap yang bermanfaat, yang berguna
bai mahluk hidup termasuk manusia yang diberikan oleh Tuhan.
Jujur, pengertian saya
tentang rezeki sangat dangkal. Saya sering kali salah mengartikan rezeki
sebagai kekayaan materil dan kesuksesan
dalam meraih sesuatu. Ketika saya berdoa meminta berkat, kemudian mendapatkan rezeki berlimpah, saya merasa
bahwa itulah yang dinamakan rezeki. Lalu bagaimana ketika saya dan saudara berdoa meminta berkat namun tak dikabulkan
oleh Tuhan? Apakah kita tidak punya rezeki? Ya, sering kali kita salah
menafsirkan apa sebenarnya yang dimaksudkan dengan rezeki.
Hari- hari ini saya
diajarkan mengenai apa itu sebenarnya “ rezeki”. Saya percaya rezeki bersumber
dari Tuhan, dan ada pada kita atas izinNya. Rezeki bisa dalam bentuk apapun dan
berbeda bagi setiap orang. Semua hal itu tidak dapat kita atur dan
prediksikan. Sebagai bahan perenungan, Saya
melihat lingkungan sekitar saya sebagai contoh konkretnya.
Di lingkungan saya ada
sebuah kedai yang sudah lama buka dan memang kedai ini ramai setiap harinya. Sebut
saja Oppung Butet pemilik kedai ini kerjanya ya memang menjaga kedainya saja,
tak ada kegiatan sampingan lainnya seperti bertani. Disana bapak-bapak
berkumpul, bermain kartu, atau hanya sekedar minum tuak. Ya bisa dibilang kedai
ini sudah punya langganan tetap. Tak lama kemudian sebut saja dia Pak Ucok
membuka kedai baru lagi, yang jaraknya hanya 10 meter dari kedai lama. Menurut saudara
bagaimana? Kira-kira ramai gak kedainya? Bertahan lama gak?.
Awalnya memang kedai
pak Ucok ini ramai namun sampai beberapa bulan saja. Kalau kata Bapak dan mama
saya “ kedai baru biasanya ramai, tapi diawalnya saja, berikutnya kita tak tahu”.
Eits ,, saya tak berpaku terhadap perkataan orangtua saya dan hal itu tak layak
dijadikan patokan. Lalu apakah pak Ucok tak memiliki rezeki?
Kedai pak Ucok memang tak seramai ketika baru
buka, namun tahukah saudara saya melihat hal unik dalam kejadian ini. Pak Ucok
yang sembari bertani sayuran di ladang yang tak begitu jauh dari ladang kami,
sempat membiarkan ladangnya begitu saja. Saya perhatikan, tanaman yang awalnya
tidak begitu bagus menjadi begitu terawat dan menghasilkan panen yang melimpah
dengan harga yang bagus pula . Wahhh,,, ada panen kentang, tomat, dan sayuran.
Ketika kedai pak Ucok
pada masa ramai- ramainya, disitulah tanamannya kurang terawat karena sibuk
seharian menjaga kedai. Dan ketika kedainya tidak begitu ramai lagi mungkin
saja pak Ucok dingatkan bahwa bukan dari kedainya saja sumber “ rezeki. Dia
masih punya ladang yang masih perlu dirawat, dari sana sumber rezeki melebihi apa yang dia dapatkan ketika menjaga
kedainya. Ya betul saja, hasil tani
melimpah dengan harga yang bagus.
Saya seakan belajar
hidup dan mulai berpikiran terbuka. Rezeki yang pada umumnya kita artikan “ nafkah
dan makanan sehari- hari” datang dalam
cara yang berbeda. Seperti Oppung Butet yang mungkin melalui kedainya itu Tuhan berikan kecukupan nafkah sedangkan
Pak Ucok melalui hasil ladangnya. Mungkin saja ketika kedai Pak Ucok ramai, dia
berpikiran bahwa akan selamanya ramai. Begitu juga dengan kita yang sering
beranggapan bahwa melalui apa yang sedang kita kerjakanlah sumber rezeki/nafkah
kita. Namun tidak begitu dengan Tuhan, dia mempunyai cara tersendiri untuk
memberikan kita rezeki.
Lintongnihuta
Rabu, 02 September 2020
Terimakasih banyak kak, untuk penjelasan nya
ReplyDeleteSemoga kita semua mendapat rejeki yg berlimpah