Ceritaku yang Terlahir Sebagai Boru
Panggoaran (Putri Sulung) part 1
Boru Panggoaran adalah nama panggilan orangtua yang menggunakan nama
putri sulungnya. Seperti saya, karena putri Sulung maka orang- orang
memanggil bapak saya" ama ni Veni" yang artinya Bapak nya veni,
demikian juga ibu dipanggil “ nai veni” yang artinya ibu dari veni.
Kebangaan Terlahir sebagai anak pertama
Terlahir sebagai anak
pertama ada kebanggan tersendiri bagi saya karena bapak saya manggil saya “ kaka” rasanya kepala saya besar sekali. Selain itu sering kali bapak menyanyikan lagu yang
berjudul “ boru panggoaran” dan juga “ boru
buhabaju”. Lirik lagu yang paling menyentuh hati saya adalah “ hodo boru
ihuthon ni anggi ibotomi namangajari huhut manganju- anju asa sada hamu songon
daion aek i, sai unanglupa ho disasude podaki”. Dalam bahasa Indonesianya “
engkaulah putriku yang menjadi panutan untuk adik-adikmu, yang akan mengajari mereka,
biarlah kalian semua satu seperti air, ingatlah nasehatku ini putriku”.
Saat mulai merasa cemburu dan jenuh
Dulu bapak saya pernah
berjanji kepada saya bahwa cukup hanya saya saja putrinya kalo adek saya yang
akan lahir laki-laki. Faktanya, adek kedua saya perempuan, disitu saya belum
merasa iri karena saya berpikir nanti ada teman bermain. Selang kurang lebih 4
tahun lahir lagi adek ketiga saya perempuan. Cemburu, iri dan mulai merasa
kurang kasih sayang, dan kurang diperdulikan karena kasih sayang orangtua udah
terbagi. Sepertinya kedua orangtua sudah merencanakan jarak kelahiran kami,
selang dua tahun lahir lagi adek ke
empat, kali ini cowok. Singkat cerita bapak dan mamak mungkin ada motto “
pantang menyerah dan coba lagi”. Terbukti adek ke 5,6 saya cewek lagi yang
paling terkejutnya adek ke 7 dan 8
kembar cewek, peringatan untuk tidak mencoba lagi.
Jujur saya merasa
sangat kesal. Setiap hari pulang sekolah saya harus pergi keladang, nasi sengaja tidak ditinggalkan dirumah agar
saya cepat keladang. Bagi saya sendiri itu adalah hal yang sangat menjengkelkan
apalagi pergi keladang sendirian melewati pepohonan dan semak belukar yang
begitu lebat. Sesampainya diladang saya harus menggendong, mengayun adek seharian. Pantas saja sekarang saya memiliki
tubuh yang mungil.
Sering kali saya menangis, karena tidak ada waktu bermain. Setiap kali saya mencoba meninggalkan adek saya diayunan, mamak udah manggil-manggil dengan suara kuat sampai keladang orang. ( maklum mamak Batak). Sering kali merasa jenuh dengan keseharianku yang marorot ( menjaga) adek. Hal yang paling kusenangi adalah hujan datang seharian, harus seharian supaya saya tidak pergi keladang. Kalau hujannya cuman sebentar pasti akan ditunggu diladang, kalau tidak saya pasti kena balbal ( hukum).
Wah.. mari berkarya.. 😊
ReplyDelete