Tuesday, 2 June 2020

Boru Panggoaran

 

Ceritaku yang Terlahir Sebagai  Boru Panggoaran  (Putri Sulung) part 1


Boru Panggoaran adalah nama panggilan orangtua yang menggunakan nama putri  sulungnya. Seperti saya, karena putri Sulung maka orang- orang memanggil bapak saya" ama ni Veni" yang artinya Bapak nya veni, demikian juga ibu dipanggil “ nai veni” yang artinya ibu dari veni.

 

Kebangaan Terlahir sebagai anak pertama

Terlahir sebagai anak pertama ada kebanggan tersendiri bagi saya  karena bapak saya manggil saya “ kaka”  rasanya kepala saya besar sekali. Selain itu  sering kali bapak menyanyikan lagu yang berjudul  “ boru panggoaran” dan juga “ boru buhabaju”. Lirik lagu yang paling menyentuh hati saya adalah “ hodo boru ihuthon ni anggi ibotomi namangajari huhut manganju- anju asa sada hamu songon daion aek i, sai unanglupa ho disasude podaki”. Dalam bahasa Indonesianya “ engkaulah putriku yang menjadi panutan untuk adik-adikmu, yang akan mengajari mereka, biarlah kalian semua satu seperti air, ingatlah nasehatku ini putriku”.

Saat mulai merasa cemburu dan jenuh

Dulu bapak saya pernah berjanji kepada saya bahwa cukup hanya saya saja putrinya kalo adek saya yang akan lahir laki-laki. Faktanya, adek kedua saya perempuan, disitu saya belum merasa iri karena saya berpikir nanti ada teman bermain. Selang kurang lebih 4 tahun lahir lagi adek ketiga saya perempuan. Cemburu, iri dan mulai merasa kurang kasih sayang, dan kurang diperdulikan karena kasih sayang orangtua udah terbagi. Sepertinya kedua orangtua sudah merencanakan jarak kelahiran kami, selang dua  tahun lahir lagi adek ke empat, kali ini cowok. Singkat cerita bapak dan mamak mungkin ada motto “ pantang menyerah dan coba lagi”. Terbukti adek ke 5,6 saya cewek lagi yang paling terkejutnya adek ke 7 dan 8  kembar cewek, peringatan untuk tidak mencoba lagi.

Jujur saya merasa sangat kesal. Setiap hari pulang sekolah saya harus pergi keladang,  nasi sengaja tidak ditinggalkan dirumah agar saya cepat keladang. Bagi saya sendiri itu adalah hal yang sangat menjengkelkan apalagi pergi keladang sendirian melewati pepohonan dan semak belukar yang begitu lebat. Sesampainya diladang saya harus menggendong, mengayun adek  seharian. Pantas saja sekarang saya memiliki tubuh yang mungil.

Sering kali saya menangis, karena tidak ada waktu bermain. Setiap kali saya mencoba meninggalkan adek saya diayunan, mamak udah manggil-manggil dengan suara kuat sampai keladang orang. ( maklum  mamak Batak). Sering kali  merasa jenuh dengan keseharianku yang marorot ( menjaga) adek. Hal yang paling kusenangi adalah hujan datang seharian, harus seharian supaya saya  tidak pergi keladang. Kalau hujannya cuman sebentar pasti akan ditunggu diladang, kalau tidak saya pasti kena balbal ( hukum).

 Dipetang hari, kedua orangtua menyuruh saya pulang terlebih dahulu sambil mengendong dan membawa adek- adek lainnya. Sungguh keterlaluan memang, apalagi saya punya adek simura tangis ( gampang nangis), dikit- dikit nangis. Seringkali orang beranggapan bahwa saya memukuli dia, ya memang andalannya nangis. 


1 comment:

Kita adalah putra dan putri raja yang berhikmat   Ayat pedoman   1 Raja – raja 10: 1-9 (1)    Ketika ratu negeri syeba mendengar kab...